Pada bagian ini, al-Māwardī membahas persaudaraan yang lahir dari mawaddah sebagai salah satu sebab utama terbangunnya keakraban sosial. Ikatan ini tumbuh dari kecenderungan hati yang jujur sehingga menghadirkan ketulusan dan kejernihan relasi. Dari ketulusan itu muncul sifat menjaga, menolong, dan setia. Al-Māwardī menempatkan bentuk persaudaraan ini sebagai tingkat tertinggi dalam hubungan antarmanusia. Rasulullah menjadikan ikatan persaudaraan di antara para sahabat sebagai sarana untuk memperkuat kesatuan, memperkokoh dukungan, dan memperluas tolong-menolong.
Beberapa riwayat menguatkan gagasan ini. Di antaranya sabda Rasulullah kepada umatnya agar menjalin hubungan dengan saudara-saudara yang memiliki hati bersih, sebab mereka menjadi hiasan di masa lapang dan penjaga di masa sulit. Riwayat lain melalui Sahl bin Sa‘d menyebut nilai kehadiran saudara yang saling memberi hak dan melihat kedudukan satu sama lain secara seimbang. Khalifah Umar menyebut pertemuan dengan saudara sebagai pelepas kesedihan. Khalid ibn Shafwān menegaskan pentingnya usaha mencari saudara yang baik, serta menyebut kelalaian dalam merawat hubungan sebagai sikap paling lemah dari seorang manusia.
Ali memberikan pesan kepada putranya Hasan bahwa orang asing sejati adalah orang yang tidak memiliki sahabat yang mencintainya. Ibn al-Mu‘tazz menambahkan bahwa siapa yang menjadikan saudara sebagai bagian dari hidupnya akan mendapatkan penolong dalam segala urusan. Para adib menggambarkan saudara yang setia sebagai harta paling berharga, sementara para bulagha menyamakan kehadirannya dengan sandaran yang memperkuat langkah. Sebuah syair menggambarkan sahabat sejati sebagai belahan jiwa yang membagi satu ruh dalam dua jasad.
Penjelasan etimologis juga muncul. Disebutkan bahwa kata “ṣadīq” berasal dari akar kejujuran, sedangkan musuh disebut demikian karena sikap melampaui batas terhadap seseorang. Thalab menyebut kata “khalīl” merujuk pada cinta yang meresap ke seluruh ruang hati hingga tidak menyisakan celah kosong. Syair Bashshār menegaskan makna itu dengan gambaran sahabat yang menempati jalur ruh dalam diri seseorang.
Al-Māwardī kemudian membagi jenis persaudaraan menjadi dua kategori. Pertama, persaudaraan yang muncul karena pertemuan dan kondisi yang tidak direncanakan. Kedua, persaudaraan yang tumbuh melalui pilihan dan niat. Persaudaraan yang lahir dari keadaan sering kali lebih kuat karena berangkat dari situasi alami yang memunculkan kedekatan. Persaudaraan yang dibangun setelah memilih juga memiliki dasar tertentu, meski kekuatannya banyak bergantung pada alasan yang menggerakkan pilihan tersebut. Hubungan yang terbangun secara natural biasanya lebih melekat dalam jangka panjang dibanding yang terbentuk melalui rekayasa sosial.
Pembahasan selanjutnya diarahkan pada jenis persaudaraan yang hadir melalui keadaan, sebab bentuk ini memiliki indikator dan tingkatan yang lebih jelas. Al-Māwardī menjelaskan bahwa setiap tingkat persaudaraan memiliki sebab dan konsekuensi. Syair Arab lama menguatkan gagasan ini dengan baris: “Setiap kecenderungan memiliki sebab yang darinya ia bermula dan darinya ia bercabang.”
Tingkat pertama persaudaraan adalah keserupaan dalam keadaan tertentu sehingga dua orang merasa cocok dalam satu ruang atau kondisi. Ketika keserupaan itu kuat, keakraban pun menguat. Bila keserupaan itu lemah, hubungan tetap terjaga selama tidak muncul sebab lain yang melemahkannya. Alasan ini muncul dari kaidah dasar: kecocokan lahir dari keserupaan, dan keserupaan bersumber dari kesamaan karakter. Jika kesamaan itu hilang, kecocokan ikut hilang. Dengan hilangnya kecocokan, keakraban pun memudar. Kesimpulannya, keserupaan—meski dengan berbagai bentuk—adalah fondasi utama dalam membangun persaudaraan dan menjadi inti terbentuknya keakraban manusia.





