Cilegon – Siswa kelas IX MTs Al-Khairiyah Karangtengah menggelar kegiatan praktik budaya dan kearifan lokal melalui tradisi Bebotok pasca panen yang dilaksanakan di lingkungan madrasah. Kegiatan tersebut berlangsung penuh kebersamaan dan mendapat perhatian dari berbagai tokoh masyarakat serta unsur pemerintahan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Ahmad Buhari, Ketua Yayasan Al-Baqo H. Muktilah, perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Cilegon, serta tokoh masyarakat Ustadz Mansyur. Kehadiran para tamu undangan menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang dikemas dalam kegiatan pendidikan di madrasah.
Acara diawali dengan sambutan dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan praktik tradisi Bebotok sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah musim panen. Tradisi ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus mengenalkan nilai gotong royong dan kebersamaan kepada para siswa.
Dalam sambutannya, pihak madrasah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran berbasis budaya dan karakter agar siswa tidak melupakan tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
kepala Madrasah Ayatulloh mengapresiasi kegiatan yang dilakukan MTs Al-Khairiyah Karangtengah karena dinilai mampu menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk mengenalkan tradisi kepada generasi muda agar budaya masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Ustadz Mansyur berharap kegiatan budaya seperti Bebotok dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi para pelajar.
Acara berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Para siswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Kegiatan praktik budaya tersebut menjadi bukti bahwa MTs Al-Khairiyah Karangtengah tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga aktif menanamkan nilai budaya, sosial, dan keagamaan kepada para siswanya.





